Gen Z Menghadapi Tradisi Dandangan Menjelang Puasa dengan Antusias dan Kreativitas Tinggi
Murianews, Kudus – Tradisi Dandangan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah bakal berlangsung lebih lama tahun ini. Biasanya, dandangan hanya digelar selama 10 hari. Pada 2026 ini, tradisi menyambut Ramadan itu digelar 12 hari.
Kepastian itu disampaikan Sekretaris Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus, Sugiarto, dalam rapat koordinasi persiapan Dandangan 2026 di Aula Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus, Rabu (4/2/2026).
Artikel ini telah tayang di Murianews.com dengan judul "Siap-Siap! Dandangan Kudus Tahun Ini Lebih Lama", (murianews.com)
Dandangan merupakan tradisi tahunan masyarakat Kudus yang menandai datangnya bulan Ramadan yang dilakukan oleh sunan Kudus , ditandai dengan bunyi bedug dan berbagai kegiatan seperti pasar rakyat serta pertunjukan seni.
Tradisi ini diikuti oleh masyarakat Kudus secara umum, dengan partisipasi aktif dari Generasi Z, termasuk pelajar, mahasiswa, dan pemuda setempat.
Kegiatan Dandangan berlangsung di pusat Kota Kudus dan kawasan sekitar Masjid Menara Kudus, yang menjadi pusat keramaian selama tradisi berlangsung.
Dandangan dilaksanakan beberapa hari menjelang awal bulan Ramadan.
Tradisi Dandangan digelar sebagai bentuk pengumuman dan penyambutan datangnya bulan puasa sekaligus sarana mempererat kebersamaan masyarakat. Bagi Gen Z, kegiatan ini menjadi cara untuk mengenal, melestarikan, dan mempromosikan budaya daerah.
Gen Z menyambut tradisi Dandangan dengan berbagai cara, mulai dari mengabadikan momen melalui media sosial, terlibat dalam kegiatan seni dan budaya, hingga membuka stan usaha kecil seperti makanan dan produk kreatif. Kreativitas ini membuat tradisi Dandangan tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Pemerintah daerah dan tokoh masyarakat mengapresiasi keterlibatan Gen Z dalam tradisi Dandangan. Diharapkan, peran aktif generasi muda dapat menjaga kelestarian tradisi ini agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.
Tradisi Dandangan bukan sekadar tradisi penyambutan akan datangnya Ramadan. Tetapi, ratusan tahun silam, Dandangan merupakan tradisi penetapan awal pertama puasa, yang kemudian disebut isbat Ramadan.
Setelah dilakukan isbat, maka keputusan 1 Ramadan ditandai dengan tabuh beduk dengan irama cepat, rancak, atau memunculkan suara “dang, dang, dang, dang”, sehingga kemudian dikenal dengan tradisi Dandangan.
Tiap tahun, Dandangan tak pernah putus dilaksanakan oleh masyarakat Kudus. Mulai dengan berziarah ke makam Sunan Kudus, prosesi menabuh beduk, kemudian makan bersama.
Selain aktivitas budaya, Dandangan juga menjadi komoditi ekonomi. Para pedagang kuliner, fesyen, dan lainnya bermunculan, seiring antusiasme masyarakat yang hadir pada acara tabuh beduk tersebut.
Bahkan tradisi Dandangan saat ini lebih inovatif dengan berbagai rangkaian kegiatan. Misalnya, dialog kebudayaan, kirab, stand UMKM, dan sebagainya.
Litbang Yayasan Masjid Menara dan Malam Sunan Kudus, Abdul Jalil, mengatakan, munculnya tradisi Dandangan karena adanya isbat Ramadan yang dilakukan oleh Sunan Kudus.
“Saat ini tradisi Dandangan sudah berlangsung sekitar 500 tahun. Jadi, bukan sekadar menyambut datangnya Ramadan, tapi penetapan awal Ramadan,” ujarnya.
Dikatakan, Dandangan sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), sehingga saat ini menjadi peristiwa budaya yang berimplikasi ekonomi.
“Banyak orang yang berdagang, karena antusias masyarakat yang ingin tahu awal Ramadan melalui tradisi Dandangan ini,” papar Jalil.


Komentar
Posting Komentar